Teori yang menjelaskan tentang proses evolusi melalui
drift genetik (hanyutan genetik) sering disebut sebagai
Efek Sewall Wright (
Sewall Wright Effect), sesuai dengan nama penemunya, Sewall Wright.
Namun, secara lebih luas dan dalam konteks biologi modern, drift genetik merupakan bagian integral dari
Sintesis Modern (
Modern Synthesis) atau
Neo-Darwinisme.
Berikut adalah penjelasan mengenai teori-teori terkait:
1. Teori Sewall Wright (Sewall Wright Effect)
Sewall Wright adalah tokoh utama yang memperkenalkan konsep drift genetik pada awal 1930-an. Ia menjelaskan bahwa dalam populasi kecil, frekuensi gen dapat berubah secara acak bukan karena seleksi alam, melainkan karena faktor kebetulan.
2. Teori Netral Evolusi Molekuler (
Jika Anda merujuk pada evolusi di tingkat DNA atau molekuler, teori yang paling terkenal adalah teori dari
Motoo Kimura (1968). Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar perubahan evolusioner pada tingkat molekuler tidak disebabkan oleh seleksi alam, melainkan oleh drift genetik dari alel-alel yang bersifat netral.
3. Shifting Balance Theory
Ini adalah teori evolusi yang lebih kompleks, juga dari Sewall Wright, yang menggabungkan:
- Drift Genetik: Untuk membantu populasi "keluar" dari puncak adaptasi lokal yang kurang optimal.
- Seleksi Alam: Untuk mendorong populasi ke puncak adaptasi yang lebih tinggi.
- Migrasi: Untuk menyebarkan gen-gen menguntungkan ke populasi lain.
Mekanisme Utama Drift Genetik
Drift genetik biasanya terjadi melalui dua fenomena utama:
- Efek Leher Botol (Bottleneck Effect): Terjadi ketika ukuran populasi berkurang drastis akibat bencana alam, sehingga variasi genetik yang tersisa hanya mewakili sebagian kecil dari populasi asli.
- Efek Pendiri (Founder Effect): Terjadi ketika sekelompok kecil individu memisahkan diri dari populasi besar dan membentuk koloni baru di tempat lain.