- Views: 190
- Balasan: 4
Bapak, Ibu Guru yang saya muliakan, serta anak-anakku sekalian, para siswa yang saya banggakan.
Saya terbiasa dengan dunia data, logika, dan efisiensi. Karena itu, ketika teknologi seperti AI dan ChatGPT muncul, saya melihatnya sebagai sebuah keniscayaan, sebuah alat bantu yang luar biasa.

Namun, belakangan ini, ada sebuah kegelisahan yang sama-sama kita rasakan di lingkungan sekolah. Kegelisahan yang dibahas dalam sebuah artikel yang baru saja saya baca. Isinya mengonfirmasi apa yang kita lihat setiap hari: minat baca siswa menurun drastis. Dulu, kita khawatir siswa hanya membaca dari rangkuman buku cetak atau LKS. Sekarang, tantangannya jauh lebih canggih. Cukup dengan satu perintah di ChatGPT, seluruh isi novel Laskar Pelangi atau bahkan pemikiran rumit dalam buku-buku Pramoedya Ananta Toer bisa diringkas dalam sekejap.
Sebagai seorang guru, saya tidak anti terhadap kemajuan ini. AI adalah alat yang sangat hebat untuk satu jenis kegiatan: membaca untuk tahu. Jika tujuan kita adalah mengumpulkan fakta, mencari poin-poin utama sebuah buku, atau memahami argumen pokok dari sebuah teks non-fiksi, AI bisa melakukannya lebih cepat dan lebih efisien. Ia seperti asisten pribadi super cerdas yang bisa menyarikan informasi untuk kita. Tolong jangan bandingkan dengan asisten pribadi Hotman Paris.
Masalahnya, pendidikan—dan juga kehidupan—bukan hanya tentang "tahu". Ada jenis membaca yang kedua, yang saya sebut membaca untuk merasakan dan menjadi. Inilah inti dari kegelisahan kita.
Jenis membaca kedua inilah yang terancam punah. Ini adalah pengalaman saat kita duduk berjam-jam dengan sebuah buku, bukan untuk mencari "poin-poin penting" yang bisa ditulis di lembar jawaban, melainkan untuk hidup di dalam dunia lain. Saat kita membaca Sirah Nabawiyah, kita tidak hanya mencari tahu plotnya. Kita merasakan pengorbanan Khadijah, kesetiaan Abu Bakar, kemarahan Umar, dan kelembutan Utsman yang pemalu. Kita bisa merasakan sengitnya peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Ikut menangis tersedu-sedu ketika membaca detik-detik terakhir perjalanan hidup rasul yang agung, Muhammad ﷺ. Kesadaran kita berubah. Kita menjadi manusia yang lebih kaya batinnya setelah menutup halaman terakhir.
Pengalaman semacam ini mustahil diringkas oleh AI.
Artikel yang saya baca (What Happens If No One Reads oleh Spencer Klavan) memberikan sebuah contoh dari novel The Brothers Karamazov karya Dostoevsky. Ada sebuah cerita tentang seorang perempuan tua yang sangat jahat. Seumur hidupnya, ia hanya pernah melakukan satu kebaikan: memberikan sebuah bawang kepada pengemis. Saat ia meninggal dan masuk neraka, malaikat pelindungnya memohon kepada Tuhan dengan membawa bawang itu sebagai bukti. Tuhan mengizinkan bawang itu diulurkan untuk menarik si perempuan ke surga. Namun, saat ia ditarik, para pendosa lain di neraka ikut berpegangan pada kakinya. Karena sifat jahatnya, ia menendangi mereka sambil berteriak, "Akulah yang harus ditarik keluar, bukan kau. Ini bawangku, bukan bawang kalian!" Seketika, bawang itu putus.
Jika kita tanyakan pada AI, apa moral cerita ini? Mungkin jawabannya adalah, "Jangan egois" atau "Berbuat baiklah." Jawaban yang benar, tapi dangkal.
Namun, bagi yang mendengar atau membaca cerita seperti itu, makna bawang itu jauh lebih dalam dan mungkin bisa mengubah hidupnya. Ia menyadari bahwa perbuatan sekecil apa pun, bahkan hanya "sebiji bawang", bisa menjadi jembatan menuju keselamatan, dan betapa rapuhnya kebaikan itu jika dilandasi keegoisan. Perasaan inilah—campuran antara harapan, kesedihan, dan pencerahan mendalam—yang tidak akan pernah bisa disampaikan oleh hasil ringkasan AI mana pun. Itu adalah sesuatu yang harus dirasakan sendiri.
Lalu, apa tugas kita?
Untuk anak-anakku sekalian:
Bapak paham, godaan untuk menggunakan AI sangat besar. Tugas terasa lebih ringan, pekerjaan selesai lebih cepat. Tapi, Bapak ingin kalian bertanya pada diri sendiri: Apa yang kalian korbankan? Saat kalian menyerahkan tugas membaca kepada AI, kalian bukan menipu guru. Kalian sedang menipu diri kalian sendiri dari kesempatan untuk bertumbuh. Kalian melewatkan kesempatan untuk melatih empati, untuk mempertajam nurani, dan untuk membangun dunia batin yang kaya dan kokoh. Dunia batin inilah yang akan menjadi pegangan kalian saat menghadapi kerumitan hidup yang sesungguhnya, yang tidak ada rangkumannya.
Untuk Bapak dan Ibu Guru rekan seperjuangan:
Peran kita kini bergeser. Kita bukan lagi sekadar sumber informasi utama; Google dan AI sudah mengambil alih peran itu. Tugas kita sekarang jauh lebih mulia: menjadi kurator pengalaman, menjadi pemandu yang bisa menunjukkan kepada siswa mengapa sebuah buku itu penting, mengapa sebuah bisa bisa menggetarkan jiwa. Kita harus merancang tugas-tugas yang tidak bisa dijawab hanya dengan meringkas, melainkan menuntut refleksi pribadi, koneksi emosional, dan pemikiran kritis yang otentik.
Pada akhirnya, kita berada di persimpangan jalan. Kita bisa membiarkan generasi ini menjadi generasi yang paling "tahu" tapi paling sedikit "merasakan". Atau, kita bisa berjuang bersama untuk mengingatkan mereka bahwa ada pengetahuan yang hanya bisa didapat melalui perenungan, ada kearifan yang lahir dari empati, dan ada keindahan yang hanya bisa dinikmati dengan kesabaran.
Sebab yang membedakan kita dari mesin terpintar sekalipun bukanlah kemampuan kita untuk mengolah informasi, melainkan kapasitas kita untuk terhubung, untuk merasakan, untuk menjadi manusia seutuhnya melalui "persekutuan jiwa dengan jiwa" yang ditawarkan oleh sebuah buku.
Saya terbiasa dengan dunia data, logika, dan efisiensi. Karena itu, ketika teknologi seperti AI dan ChatGPT muncul, saya melihatnya sebagai sebuah keniscayaan, sebuah alat bantu yang luar biasa.

Namun, belakangan ini, ada sebuah kegelisahan yang sama-sama kita rasakan di lingkungan sekolah. Kegelisahan yang dibahas dalam sebuah artikel yang baru saja saya baca. Isinya mengonfirmasi apa yang kita lihat setiap hari: minat baca siswa menurun drastis. Dulu, kita khawatir siswa hanya membaca dari rangkuman buku cetak atau LKS. Sekarang, tantangannya jauh lebih canggih. Cukup dengan satu perintah di ChatGPT, seluruh isi novel Laskar Pelangi atau bahkan pemikiran rumit dalam buku-buku Pramoedya Ananta Toer bisa diringkas dalam sekejap.
Sebagai seorang guru, saya tidak anti terhadap kemajuan ini. AI adalah alat yang sangat hebat untuk satu jenis kegiatan: membaca untuk tahu. Jika tujuan kita adalah mengumpulkan fakta, mencari poin-poin utama sebuah buku, atau memahami argumen pokok dari sebuah teks non-fiksi, AI bisa melakukannya lebih cepat dan lebih efisien. Ia seperti asisten pribadi super cerdas yang bisa menyarikan informasi untuk kita. Tolong jangan bandingkan dengan asisten pribadi Hotman Paris.
Masalahnya, pendidikan—dan juga kehidupan—bukan hanya tentang "tahu". Ada jenis membaca yang kedua, yang saya sebut membaca untuk merasakan dan menjadi. Inilah inti dari kegelisahan kita.
Jenis membaca kedua inilah yang terancam punah. Ini adalah pengalaman saat kita duduk berjam-jam dengan sebuah buku, bukan untuk mencari "poin-poin penting" yang bisa ditulis di lembar jawaban, melainkan untuk hidup di dalam dunia lain. Saat kita membaca Sirah Nabawiyah, kita tidak hanya mencari tahu plotnya. Kita merasakan pengorbanan Khadijah, kesetiaan Abu Bakar, kemarahan Umar, dan kelembutan Utsman yang pemalu. Kita bisa merasakan sengitnya peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Ikut menangis tersedu-sedu ketika membaca detik-detik terakhir perjalanan hidup rasul yang agung, Muhammad ﷺ. Kesadaran kita berubah. Kita menjadi manusia yang lebih kaya batinnya setelah menutup halaman terakhir.
Pengalaman semacam ini mustahil diringkas oleh AI.
Artikel yang saya baca (What Happens If No One Reads oleh Spencer Klavan) memberikan sebuah contoh dari novel The Brothers Karamazov karya Dostoevsky. Ada sebuah cerita tentang seorang perempuan tua yang sangat jahat. Seumur hidupnya, ia hanya pernah melakukan satu kebaikan: memberikan sebuah bawang kepada pengemis. Saat ia meninggal dan masuk neraka, malaikat pelindungnya memohon kepada Tuhan dengan membawa bawang itu sebagai bukti. Tuhan mengizinkan bawang itu diulurkan untuk menarik si perempuan ke surga. Namun, saat ia ditarik, para pendosa lain di neraka ikut berpegangan pada kakinya. Karena sifat jahatnya, ia menendangi mereka sambil berteriak, "Akulah yang harus ditarik keluar, bukan kau. Ini bawangku, bukan bawang kalian!" Seketika, bawang itu putus.
Jika kita tanyakan pada AI, apa moral cerita ini? Mungkin jawabannya adalah, "Jangan egois" atau "Berbuat baiklah." Jawaban yang benar, tapi dangkal.
Namun, bagi yang mendengar atau membaca cerita seperti itu, makna bawang itu jauh lebih dalam dan mungkin bisa mengubah hidupnya. Ia menyadari bahwa perbuatan sekecil apa pun, bahkan hanya "sebiji bawang", bisa menjadi jembatan menuju keselamatan, dan betapa rapuhnya kebaikan itu jika dilandasi keegoisan. Perasaan inilah—campuran antara harapan, kesedihan, dan pencerahan mendalam—yang tidak akan pernah bisa disampaikan oleh hasil ringkasan AI mana pun. Itu adalah sesuatu yang harus dirasakan sendiri.
Lalu, apa tugas kita?
Untuk anak-anakku sekalian:
Bapak paham, godaan untuk menggunakan AI sangat besar. Tugas terasa lebih ringan, pekerjaan selesai lebih cepat. Tapi, Bapak ingin kalian bertanya pada diri sendiri: Apa yang kalian korbankan? Saat kalian menyerahkan tugas membaca kepada AI, kalian bukan menipu guru. Kalian sedang menipu diri kalian sendiri dari kesempatan untuk bertumbuh. Kalian melewatkan kesempatan untuk melatih empati, untuk mempertajam nurani, dan untuk membangun dunia batin yang kaya dan kokoh. Dunia batin inilah yang akan menjadi pegangan kalian saat menghadapi kerumitan hidup yang sesungguhnya, yang tidak ada rangkumannya.
Untuk Bapak dan Ibu Guru rekan seperjuangan:
Peran kita kini bergeser. Kita bukan lagi sekadar sumber informasi utama; Google dan AI sudah mengambil alih peran itu. Tugas kita sekarang jauh lebih mulia: menjadi kurator pengalaman, menjadi pemandu yang bisa menunjukkan kepada siswa mengapa sebuah buku itu penting, mengapa sebuah bisa bisa menggetarkan jiwa. Kita harus merancang tugas-tugas yang tidak bisa dijawab hanya dengan meringkas, melainkan menuntut refleksi pribadi, koneksi emosional, dan pemikiran kritis yang otentik.
Pada akhirnya, kita berada di persimpangan jalan. Kita bisa membiarkan generasi ini menjadi generasi yang paling "tahu" tapi paling sedikit "merasakan". Atau, kita bisa berjuang bersama untuk mengingatkan mereka bahwa ada pengetahuan yang hanya bisa didapat melalui perenungan, ada kearifan yang lahir dari empati, dan ada keindahan yang hanya bisa dinikmati dengan kesabaran.
Sebab yang membedakan kita dari mesin terpintar sekalipun bukanlah kemampuan kita untuk mengolah informasi, melainkan kapasitas kita untuk terhubung, untuk merasakan, untuk menjadi manusia seutuhnya melalui "persekutuan jiwa dengan jiwa" yang ditawarkan oleh sebuah buku.