Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Apa Pembelajaran Mendalam?​

Definisi: pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistikdan terpadu.

Pembelajaran Mendalam sebagai Solusi​

Pelajaran Mendalam

8 Dimensi Profil Lulusan​

  1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME. Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan YME dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kewargaan. Individu yang memiliki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan.
  3. Penalaran Kritis. Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah.
  4. Kreativitas. Individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat.
  5. Kolaborasi. Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan oranglain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab.
  6. Kemandirian. Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain.
  7. Kesehatan. Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being).
  8. Komunikasi. Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam​

kerangka kerja pembelajaran mendalam
 

Paparan Pembelajaran Mendalam​

 
Contoh konkret penerapan Pembelajaran Mendalam dalam mata pelajaran Agama

Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Tujuan Pembelajaran:
Peserta didik dapat memahami dan meneladani sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan Prinsip Pembelajaran Mendalam:

  • Berkesadaran (Conscious):
    • Guru sebagai Aktivator: Guru tidak hanya berceramah tentang sifat-sifat Nabi, tetapi memulai pembelajaran dengan pertanyaan reflektif: "Menurut kalian, mengapa kita perlu meneladani sifat Nabi Muhammad SAW di zaman sekarang?". Ini mendorong kesadaran peserta didik akan relevansi ajaran agama dengan kehidupan modern.
    • Peserta Didik Aktif: Peserta didik tidak hanya pasif mendengarkan, tetapi diajak untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi tantangan dalam menerapkan sifat-sifat tersebut (misalnya, sifat sabar saat menghadapi perundungan di media sosial).
  • Bermakna (Meaningful):
    • Kontektualisasi: Pembelajaran tidak berhenti pada teori. Guru mengajak peserta didik untuk membuat proyek sosial kecil di lingkungan sekolah. Misalnya, setelah mempelajari sifat "amanah" (dapat dipercaya), setiap kelas bisa membuat "pojok kejujuran" di mana mereka bisa menjual makanan kecil tanpa penjaga, melatih kepercayaan dan tanggung jawab.
    • Kolaborasi dengan Mitra: Guru bisa mengundang seorang tokoh masyarakat atau pengusaha Muslim yang sukses karena menerapkan sifat-sifat Nabi dalam bisnisnya. Ini memberikan contoh nyata dan inspirasi bagi peserta didik, membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif.
  • Menggembirakan (Joyful):
  • Lingkungan Belajar yang Menyenangkan: Guru menggunakan berbagai metode yang menarik, seperti:
    • Bermain Peran (Role-playing): Peserta didik memerankan kisah-kisah teladan Nabi Muhammad SAW.
    • Media Kreatif: Membuat poster digital, atau video pendek tentang sifat-sifat Nabi dan mengunggahnya ke media sosial sekolah.
    • Games (Permainan): Membuat kuis interaktif tentang siroh nabawiyah (sejarah Nabi) menggunakan platform seperti Kahoot! atau Quizziz.
  • Apresiasi: Guru memberikan apresiasi tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan usaha peserta didik dalam mencoba menerapkan sifat-sifat mulia tersebut dalam keseharian mereka, sekecil apapun itu.
Melalui pendekatan ini, pembelajaran agama tidak lagi terasa sebagai hafalan atau kewajiban yang kaku, melainkan sebuah proses penemuan jati diri dan pembentukan karakter yang relevan, bermakna, dan menyenangkan bagi peserta didik.
 
Mau seperti apapun model pendekatannya, pembelajaran mendalam, pembelajaran ini, pembelajaran itu, semuanya percuma kalau guru mengajar 30 jam lebih satu pekan, 8 kelas, per kelas 33-36 siswa.

Teori saja.

Perbanyak sekolah perbanyak guru, itu beru betul.
 
Minimal 24 jam bagi yang bersertifikat. Saya setuju jumlah sekolah dan guru diperbanyak.
 
Similar content Most view View more

Anggota online

Tak ada anggota yang online sekarang.
Back
Top Bottom