Sistem Pertahanan Tubuh pada Manusia

Status
Tidak terbuka untuk balasan lebih lanjut.
Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, peserta didik mampu:
  1. mengidentifikasi komponen-komponen sistem pertahanan tubuh nonspesifik;
  2. menganalisis cara kerja antibodi dalam melawan antigen;
  3. menjelaskan mekanisme kekebalan humoral dan kekebalan seluler;
  4. menjelaskan jenis-jenis kekebalan tubuh; serta
  5. mengidentifikasi gangguan-gangguan pada sistem pertahanan tubuh manusia.
Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
  • Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia
  • Bergotong royong
  • Bernalar kritis
Peta Konsep

peta konsep sistem pertahanan tubuh manusia

Apersepsi

Transfusi darah berguna untuk mengatasi kekurangan darah pada seseorang, misalnya akibat kecelakaan atau penyakit tertentu. Transfusi dilakukan dengan mendonorkan darah dari satu orang kepada orang lain (resipien). Namun, proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Penting untuk mengetahui golongan darah pendonor dan resipien guna mencegah penggumpalan darah setelah transfusi. Penggumpalan darah merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap darah yang tidak sesuai, yang dipicu oleh peran antigen dan antibodi dalam darah. Selain antigen dan antibodi, komponen apa lagi yang terlibat dalam sistem pertahanan tubuh manusia?

🔑 Kata Kunci: Fagositosis, Antigen, Respons Kekebalan Humoral, Kekebalan Aktif, Autoimunitas, Limfosit, Antibodi, Respons, Kekebalan Seluler, Kekebalan Pasif, Imunodefisiensi.

Materi

A. Jenis-Jenis Pertahanan Tubuh
B. Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh dan Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh
 

Asesmen Diagnostik​

1. Salah satu bentuk pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh adalah pertahanan fisik. Contoh dari pertahanan tersebut dapat berupa . . . .

a. rongga hidung yang memiliki rambut-rambut halus
b. lapisan terluar kulit yang mengandung keratin
c. air mata yang mengandung enzim lisozim
d. populasi bakteri baik yang hidup di kulit
e. keringat yang memberi suasana asam

2. Perhatikan beberapa jenis imunisasi berikut!

1) Imunisasi hepatitis B
2) Imunisasi pentavalen
3) Imunisasi influenza
4) Imunisasi BCG
5) Imunisasi PCV
6) Imunisasi MR

Jenis imunisasi wajib yang diberikan kepada bayi ditunjukkan oleh angka . . . .

a. 1), 2), dan 3)
b. 1), 2), dan 4)
c. 2), 3), dan 6)
d. 3), 4), dan 5)
e. 4), 5), dan 6)

3. Contoh vaksin yang mengandung patogen yang sudah dimatikan adalah . . . .

a. OPV
b. IPV
c. PCV
d. vaksin difteri
e. vaksin tetanus

4. Jenis antibodi yang berperan dalam mengatasi alergen yang masuk ke tubuh adalah . . . .

a. IgA
b. Ig
c. IgE
d. IgG
e. IgM

5. Jenis limfosit yang berfungsi menyerang patogen yang masuk ke tubuh, sel tubuh yang terinfeksi, dan sel kanker secara langsung adalah . . . .

a. sel B plasma
b. sel T supresor
c. sel T sitotoksik
d. sel B pembelah
e. sel T pembantu

Kunci Jawaban
Konten blok tersembunyi ini hanya dapat dilihat oleh anggota: Guru
 

A. Jenis-Jenis Pertahanan Tubuh​


Sistem pertahanan tubuh kita terbagi menjadi dua jenis berdasarkan cara kerjanya: nonspesifik dan spesifik. Ketika patogen atau benda asing berusaha masuk ke tubuh, mereka pertama-tama akan berhadapan dengan sistem pertahanan nonspesifik. Jika sistem ini gagal menghentikan serangan, barulah sistem pertahanan spesifik akan diaktifkan untuk melawan patogen tersebut.

1. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik​

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik merupakan pertahanan tubuh yang tidak membedakan patogen satu dengan yang lainnya. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik melibatkan beberapa jaringan tubuh dalam melawan patogen. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik disebut juga sistem pertahanan tubuh bawaan (innate immune system). Pertahanan tubuh nonspesifik sudah diperoleh manusia sejak lahir. Untuk mengetahui bentuk sistem pertahanan tubuh nonspesifik, lakukan kegiatan berikut.


Aktivitas 1: Mengidentifikasi Jenis Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Komponen yang ditunjukkan pada gambar di bawah memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Komponen ini akan aktif bekerja ketika ada patogen yang menyerang tubuh, membantu tubuh melawan infeksi.

 Komponen sistem pertahanan  tubuh
Sumber: Anthony L. Mescher, 2013, Junqueira’s Basic Histology Text and Atlas

Setelah mengamati gambar tersebut, diskusikan permasalahan-permasalahan berikut bersama teman
sebangkumu.
  1. Komponen apa yang berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas?
  2. Jelaskan mekanisme pertahanan tubuh yang dilakukan oleh komponen tersebut!
  3. Selain komponen pada gambar tersebut, adakah komponen pertahanan tubuh nonspesifik lainnya?
Catatan: Carilah informasi dari berbagai sumber untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Tulislah hasil diskusimu dalam buku tugas dan presentasikan di depan kelas menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Selanjutnya, kumpulkan hasil diskusimu kepada Bapak/Ibu Guru untuk diberi penilaian.


Pada kegiatan ini, kamu diminta menganalisis gambar yang berkaitan dengan salah satu komponen sistem pertahanan tubuh. Selain itu, kamu juga diminta mencari informasi dari berbagai sumber, seperti buku referensi dan artikel di internet. Informasi-informasi tersebut tidak dapat langsung digunakan; kamu perlu mengklarifikasinya secara kritis. Dengan begitu, informasi yang kamu peroleh akan semakin kredibel dan dapat membantu dalam menganalisis gambar yang disajikan.

Dari kegiatan tersebut, kamu telah mempelajari salah satu bentuk sistem pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem ini bekerja lebih cepat dibandingkan sistem pertahanan tubuh spesifik. Respons sistem pertahanan nonspesifik terhadap patogen selalu sama, sehingga paparan patogen berulang kali tidak meningkatkan kinerjanya. Dalam melawan patogen, sistem pertahanan nonspesifik melibatkan dua garis pertahanan sebagai berikut:
  • Garis pertahanan pertama (eksternal) terdiri dari bagian luar tubuh seperti kulit, membran mukosa, dan cairan sekresi yang dihasilkan keduanya.
  • Garis pertahanan kedua (internal) terjadi di dalam tubuh, melibatkan sel atau senyawa kimia tertentu, seperti fagositosis oleh fagosit, inflamasi, protein antimikrob, dan sel pembunuh alami.

Mekanisme sistem pertahanan tubuh nonspesifik ini berlangsung melalui beberapa cara berikut.

📋 a. Pertahanan yang Terdapat di Permukaan Tubuh

Pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh berupa pertahanan fisik, pertahanan mekanis,
pertahanan kimiawi, dan pertahanan biologis.

1) Pertahanan Fisik

Kulitmu adalah tembok pertama dan terpenting. Lapisan kulitmu terdiri dari sel-sel yang sangat rapat, seperti ubin yang saling mengunci. Susunan sel yang rapat ini membuat sulit bagi bakteri, virus, atau jamur (yang kita sebut patogen) untuk masuk ke dalam tubuhmu.

Selain itu, kulitmu juga memiliki lapisan pelindung lain. Ada zat yang namanya keratin, yang membuat kulitmu menjadi keras dan tahan air. Kondisi kulit yang kering juga tidak disukai oleh banyak jenis mikroorganisme. Jadi, kulitmu ini seperti tembok yang tidak hanya kuat, tapi juga licin dan kering, sehingga sulit didaki oleh para penyerbu.

Selain kulit, tubuhmu juga memiliki gerbang-gerbang yang dijaga ketat. Misalnya, hidung, mulut, dan lubang-lubang kecil lainnya. Bagian dalam gerbang-gerbang ini dilapisi oleh selaput lendir yang lengket. Selaput lendir ini akan menangkap patogen yang berusaha masuk dan membuangnya keluar tubuh, misalnya saat kita bersin atau batuk.

Jadi, pertahanan tubuh fisik ini bekerja seperti sistem keamanan pada sebuah bangunan. Kulit adalah tembok luar yang kuat, sedangkan selaput lendir adalah penjaga yang selalu siap siaga. Dengan adanya pertahanan ini, tubuh kita bisa terlindungi dari serangan berbagai macam penyakit.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa membayangkannya seperti ini:
  • Kulit: Seperti tembok batu yang kokoh dan sulit ditembus.
  • Selaput lendir: Seperti perangkap lem yang menjebak serangga.
  • Patogen: Seperti pasukan musuh yang ingin menyerang benteng.
Dengan memahami pertahanan tubuh fisik, kita akan lebih menghargai betapa luar biasanya tubuh kita. Kita juga akan lebih peduli untuk menjaga kebersihan tubuh, agar pertahanan tubuh kita tetap berfungsi dengan baik.

2) Pertahanan Mekanis

Pertahanan tubuh secara mekanis dilakukan oleh rambut-rambut halus di hidung dan silia di trakea. Rambut-rambut halus di hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari partikel berbahaya dan mikroorganisme. Sementara itu, silia di trakea berperan menyapu partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir agar dapat dikeluarkan dari tubuh.

3) Pertahanan Kimiawi

Pertahanan tubuh secara kimiawi dilakukan oleh sekresi yang dihasilkan oleh kulit dan membran mukosa, seperti minyak, keringat, air liur, air mata, serta lendir (mukus). Sekresi-sekresi ini mengandung zat kimia yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Minyak dan keringat menciptakan lingkungan asam (pH 3–5), yang menghalangi pertumbuhan mikroorganisme pada kulit. Sementara itu, air liur, air mata, dan lendir mengandung enzim lisozim, yang berfungsi menghancurkan dinding sel bakteri, menyebabkan bakteri pecah dan mati.

4) Pertahanan Biologis

Pertahanan biologis tubuh dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya yang hidup di kulit dan membran mukosa. Bakteri-bakteri ini melindungi tubuh dengan bersaing dengan bakteri patogen untuk mendapatkan nutrisi.

Selain bersaing untuk nutrisi, bakteri tidak berbahaya di kulit dan membran mukosa juga menghasilkan zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Mereka membentuk lapisan pelindung yang membuat bakteri berbahaya lebih sulit berkembang biak. Kondisi ini disebut sebagai "flora normal" atau "mikrobiota," yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan melindungi tubuh dari infeksi.

Jika flora normal terganggu, misalnya oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan, bakteri patogen bisa berkembang lebih mudah, sehingga meningkatkan risiko infeksi.

📋 b. Respons Peradangan (Inflamasi)

Peradangan adalah respons tubuh terhadap kerusakan jaringan, seperti akibat goresan atau benturan. Proses peradangan ditandai oleh lima gejala: nyeri (dolor), kemerahan (rubor), panas (calor), pembengkakan (tumor), dan hilangnya fungsi (functio laesa).

Patogen dapat masuk ke tubuh melalui luka, dan respons peradangan membantu mencegah infeksi dari patogen tersebut. Bagaimana sebenarnya mekanisme respons peradangan ini terjadi? Lakukan kegiatan berikut untuk mengetahui jawabannya.


Aktivitas 2: Menjelaskan Mekanisme Peradangan

Salah satu bentuk sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah respons peradangan. Peradangan atau inflamasi terjadi pada bagian tubuh yang mengalami luka sehingga patogen dapat menginfeksi tubuh melalui bagian tersebut. Sekarang, perhatikan skema respons peradangan berikut.
Mekanisme pertahanan tubuh melalui peradangan
Bagaimanakah mekanisme peradangan berdasarkan gambar tersebut? Mengapa peradangan termasuk dalam pertahanan tubuh nonspesifik? Diskusikan bersama teman sebangkumu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Carilah informasi dari berbagai sumber untuk membantumu saat berdiskusi. Selanjutnya, presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas menggunakan bahasa yang santun. Mintalah teman-teman dan Bapak/Ibu Gurumu untuk memberikan tanggapan.


📋 c. Fagositosis

Fagositosis adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang dilakukan oleh sel-sel khusus dengan cara menelan dan mencerna mikroorganisme atau partikel asing. Sel-sel ini disebut fagosit. Contoh fagosit adalah neutrofil, eosinofil, dan makrofag. Neutrofil adalah sel darah putih (leukosit) yang paling banyak dalam darah, sekitar 54–62% dari total sel darah putih.

📋 d. Protein Antimikrob

Protein yang memainkan peran penting dalam pertahanan tubuh. Salah satu jenis protein antimikrob adalah protein komplemen, yang dapat membunuh bakteri dengan cara membentuk lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri. Lubang ini menyebabkan ion Ca²⁺ keluar dari bakteri, sementara cairan dan garam masuk, sehingga bakteri tersebut hancur.

Selain itu, ada interferon, protein antimikrob yang dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi virus. Interferon bekerja dengan berikatan pada sel-sel yang belum terinfeksi, dan membantu mereka memproduksi zat yang mencegah replikasi virus. Dengan cara ini, penyebaran virus dalam tubuh dapat dicegah.

📋 e. Sel Pembunuh Alami

Ketika suatu sel terinfeksi patogen atau berubah menjadi sel kanker, sel pembunuh alami (natural killer/NK) akan menempel pada sel tersebut. Sel NK kemudian melepaskan protein yang disebut granzim, yang memicu apoptosis, yaitu kematian sel. Setelah sel tersebut mati, fagosit akan menghancurkannya.
 

2. Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik​

Sistem pertahanan tubuh spesifik yang bekerja melawan patogen tertentu. Sistem ini akan aktif setelah patogen berhasil melewati pertahanan tubuh nonspesifik. Kekebalan tubuh terbentuk karena adanya interaksi antara antigen dan antibodi. Untuk lebih memahami peran antibodi, mari kita mulai dengan kegiatan berikut.


Aktivitas 3: Menganalisis Peran Antibodi

Virus dapat menyebar melalui droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Sebenarnya, tubuh
manusia sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan tubuh sehingga dapat menangkal berbagai
penyakit akibat infeksi patogen. Saat virus masuk ke dalam tubuh, virus tersebut akan dilawan oleh
antibodi. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa antibodi merupakan komponen penting dalam sistem pertahanan tubuh. Sekarang, carilah informasi dari berbagai sumber mengenai mekanisme
penularan penyakit oleh virus dan peran antibodi dalam melawan infeksi virus tersebut. Kamu dapat
mencari informasi dari berbagai sumber, seperti buku referensi, artikel di internet, atau jurnal ilmiah.
Selanjutnya, susunlah informasi tersebut dalam artikel, lalu presentasikan hasilnya di depan kelas
menggunakan bahasa yang santun. Setelah itu, kumpulkan hasil artikelmu kepada Bapak/Ibu Guru
untuk diberi penilaian.


Berdasarkan kegiatan tersebut, kamu telah mengetahui bahwa pertahanan tubuh secara spesifik dilakukan oleh antibodi yang dibentuk oleh limfosit (sel B) karena adanya antigen yang masuk ke tubuh. Bacalah uraian berikut untuk lebih memahami tentang antibodi dan limfosit.

a. Antibodi (Immunoglobulin/Ig)

Antibodi akan dibentuk oleh tubuh ketika ada antigen yang masuk ke tubuh. Antigen dapat berupa molekul asing (molekul bebas atau terdapat pada patogen) maupun molekul yang dihasilkan oleh sel tubuh yang dapat memicu respons kekebalan tubuh. Molekul antigen yang paling umum adalah protein. Namun, terdapat juga antigen yang berupa peptida, lipid, dan polisakarida. Misalnya, antigen pada bakteri yang berupa kapsul polisakarida. Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin karena berfungsi melindungi tubuh melalui proses kekebalan (immune). Antibodi merupakan senyawa glikoprotein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikat antigen tersebut. Suatu antibodi bekerja secara spesifik untuk antigen tertentu, misalnya antibodi cacar hanya bekerja untuk antigen cacar. Oleh karena jenis antigen pada setiap patogen bersifat spesifik, diperlukan antibodi yang berbeda untuk jenis patogen yang berbeda. Dengan demikian, diperlukan berbagai jenis antibodi untuk melindungi tubuh dari berbagai patogen.

Antibodi tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik, yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi tersebut dihubungkan satu sama lain
oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya seperti huruf Y.
Struktur antibodi

Beberapa cara kerja antibodi dalam menginaktivasi antigen sebagai berikut.

1) Netralisasi, yaitu antibodi berikatan pada sisi penghubung determinan (epitop) suatu antigen sehingga aktivitas antigen menjadi terhambat. Antibodi yang berikatan dengan antigen akan memproduksi senyawa opsonin agar fagosit dapat segera mencerna antigen tersebut. Kemampuan antigen dalam memproduksi opsonin dinamakan opsonisasi.

2) Aglutinasi (penggumpalan), yaitu kondisi ketika suatu antibodi mengikat antigen pada seluruh sisi pengikatannya. Dengan demikian, satu antibodi dapat berikatan dengan banyak antigen sejenis sekaligus. Adanya ikatan kompleks antibodi-antigen tersebut mengakibatkan ukurannya menjadi lebih besar sehingga fagosit lebih mudah mencernanya.

3) Presipitasi (pengendapan), yaitu pengikatan antigen yang terlarut dalam cairan tubuh oleh antibodi sehingga membentuk endapan yang akan dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis.

4) Fiksasi komplemen, yaitu aktivasi protein komplemen oleh kompleks antibodi-antigen. Protein komplemen berperan dalam menghancurkan dinding sel dan membran plasma mikroorganisme.
Pengikatan antigen pada patogen oleh antibodi

Antibodi dapat dibedakan menjadi lima tipe, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE. Kelima antibodi tersebut memiliki struktur, karakteristik, dan fungsi berbeda, seperti dijelaskan berikut ini.

1) Antibodi IgM.

Antibodi IgM pertama kali dilepaskan ke aliran darah pada saat terjadi infeksi yang pertama kali (respons kekebalan primer).

2) Antibodi IgG.

Paling banyak terdapat di dalam darah dan diproduksi saat terjadi infeksi kedua (respons kekebalan sekunder). IgG juga mengalir melalui plasenta dan memberi kekebalan pasif dari ibu kepada janin.

3) Antibodi IgA. Dapat ditemukan dalam air mata, air ludah, keringat, dan membran mukosa. IgA berfungsi mencegah infeksi pada permukaan epitelium. IgA juga terdapat dalam kolostrum yang berfungsi untuk mencegah kematian bayi akibat infeksi saluran pencernaan.

4) Antibodi IgD

Antibodi IgD ditemukan pada permukaan limfosit B sebagai reseptor antigen dan berfungsi merangsang pembentukan antibodi oleh sel B plasma.

5) Antibodi IgE

Antibodi IgE ditemukan terikat pada basofil di dalam sirkulasi darah dan sel tiang (mastosit) di dalam jaringan yang berfungsi memengaruhi sel untuk melepaskan histamin dan terlibat dalam reaksi alergi.

Berdasarkan sumber, antigen dapat dibedakan menjadi tiga jenis: autologous antigen, homologous antigen, dan heterologous antigen. Autologous antigen atau autoantigen adalah antigen yang berasal dari individu yang sama, seperti antigen pada sel kanker.

Homologous antigen atau alloantigen berasal dari individu lain dalam spesies yang sama, misalnya aglutinogen A (protein yang menentukan golongan darah) saat masuk ke tubuh melalui transfusi darah. Heterologous antigen, di sisi lain, berasal dari individu dan spesies yang berbeda, seperti antigen pada bakteri dan virus.

Antigen memiliki kemampuan untuk memicu respons kekebalan yang disebut antigenisitas. Antigenisitas ini ditentukan oleh karakteristik antigen serta kemampuan genetik inang untuk mengenalinya. Beberapa faktor yang memengaruhi antigenisitas meliputi ukuran dan berat molekul, bentuk, konfigurasi, jumlah epitop, dan tingkat kelarutannya. Cara antigen memasuki tubuh juga berpengaruh, dengan antigen yang masuk melalui peredaran darah lebih mudah memicu respons kekebalan dibandingkan melalui mulut atau hidung.

Setiap sel memiliki molekul pengenal di permukaan membran plasmanya, dikenal sebagai antigen permukaan sel (cell surface antigen). Antigen ini tidak memicu produksi antibodi pada tubuhnya sendiri, tetapi saat masuk ke tubuh individu lain, ia dapat memicu produksi antibodi sebagai alloantigen. Mekanisme ini terjadi pada proses transfusi darah.

Dalam transfusi darah, keberadaan alloantigen pada darah pendonor dan antibodi pada plasma darah resipien harus diperhatikan. Contoh alloantigen yang penting adalah aglutinogen, yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B yang ada pada eritrosit. Contoh antibodi yang perlu diperhatikan adalah aglutinin, yaitu aglutinin α (anti-A) dan aglutinin β (anti-B) yang terdapat pada plasma darah.

Perbedaan antara kandungan aglutinin dan aglutinogen menjadi dasar dalam sistem penggolongan darah ABO. Untuk mengetahui golongan darah dalam sistem ABO, perhatikan tabel berikut.

Golongan DarahAglutinogen pada EritrositAglutinin pada Plasma Darah
AAβ (anti-B)
BBα (anti-A)
ABA dan BTidak ada
OTidak adaα (anti-A) dan β (anti-B)

Dalam transfusi darah, penting memperhatikan jenis aglutinogen (antigen) pada eritrosit pendonor dan jenis aglutinin (antibodi) pada plasma darah resipien. Jika aglutinin bertemu dengan aglutinogen yang sesuai, eritrosit dapat menggumpal. Jadi, jika darah pendonor tidak sesuai, aglutinogen pendonor dapat bereaksi dengan aglutinin resipien dan menyebabkan penggumpalan darah resipien.

Orang dengan golongan darah O bisa menjadi pendonor universal bagi semua golongan darah dalam sistem ABO, sedangkan golongan darah AB dapat menerima darah dari semua golongan darah dalam sistem ini. Namun, transfusi semacam ini jarang dilakukan karena adanya kemungkinan ketidakcocokan di luar sistem ABO.

Selain berdasarkan jenis aglutinin dan aglutinogen, golongan darah juga ditentukan oleh keberadaan faktor Rhesus (Rh). Faktor Rh merupakan protein yang ada pada sel darah merah (eritrosit) seseorang. Jika seseorang memiliki faktor Rh dalam darahnya, golongan darahnya akan diklasifikasikan sebagai Rhesus positif (+), misalnya A+, B+, AB+, atau O+. Sebaliknya, jika darah seseorang tidak memiliki faktor Rh, golongan darahnya akan disebut Rhesus negatif (–), seperti A-, B-, AB-, atau O-.

b. Limfosit​

Ada dua tipe utama limfosit, yaitu limfosit B (sel B) dan limfosit T (sel T).

1) Sel B

Pembentukan dan pematangan sel B terjadi di sumsum tulang. Setelah matang, sel B akan tersebar ke seluruh tubuh melalui sistem limfatik dan berperan dalam kekebalan humoral dengan menghasilkan antibodi. Sel B terdiri dari tiga jenis, yaitu:
  • Sel B plasma: Membentuk antibodi.
  • Sel B pengingat: Mengingat antigen yang pernah masuk ke tubuh dan merangsang pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi berulang.
  • Sel B pembelah: Membentuk sel B plasma dan sel B pengingat.
2) Sel T

Sel T terbentuk di sumsum tulang dan matang di kelenjar timus. Sel ini berperan dalam kekebalan seluler dengan menyerang sel atau partikel asing penghasil antigen. Sel T juga mendukung produksi antibodi oleh sel B plasma. Sel T terbagi menjadi tiga jenis:
  • Sel T pembunuh (sitotoksik): Berfungsi dalam respons kekebalan seluler. Saat bertemu antigen, sel ini berkembang menjadi sel T pembunuh aktif yang menyerang patogen dan sel T pembunuh pengingat yang mengingat antigen.
  • Sel T pembantu: Menstimulasi pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma, serta mengaktifkan fagosit untuk fagositosis. Sel T pembantu dapat berkembang menjadi sel T pembantu pengingat yang juga mengingat antigen.
  • Sel T supresor: Mengurangi dan menghentikan respons imun dengan menurunkan produksi antibodi dan aktivitas sel T pembunuh, bekerja setelah infeksi teratasi.


Cakap Literasi 1

Proses peredaran limfosit berlangsung melalui sistem limfatik. Sistem limfatik atau dikenal dengan sistem getah bening merupakan bagian tubuh yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh.
Sistem limfatik bekerja untuk mengalirkan limfa atau getah bening ke seluruh tubuh. Fungsi sistem limfatik masih berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh, yaitu mendukung kekebalan tubuh melawan
serangan patogen. Selain berperan dalam melawan patogen atau partikel asing penyebab penyakit, sistem limfatik juga berperan dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh dan menyerap sebagian
lemak makanan dalam usus. Sekarang, carilah informasi mengenai struktur dan fungsi organ-organ pada sistem limfatik dari berbagai sumber. Kamu dapat mencari informasi tersebut melalui artikel di
internet maupun buku-buku referensi. Buatlah charta berdasarkan hasil penelusuranmu. Selanjutnya, presentasikan hasil charta-mu di depan kelas dan kumpulkan kepada Bapak/Ibu Guru untuk diberi penilaian. Tempelkan hasil charta tersebut di laboratorium atau perpustakaan sekolah agar dapat dijadikan sebagai tambahan bahan belajar teman-temanmu.


Ketika tubuh mengenali antigen, limfosit akan merespon dengan dua cara yang berbeda. Pertama, melalui kekebalan humoral (antibody-mediated immunity) yang melibatkan produksi antibodi. Kedua, melalui kekebalan seluler yang melibatkan aktivasi sel-sel (cell-mediated immunity) tertentu untuk menyerang langsung.

1) Kekebalan Humoral

Kekebalan humoral bergantung pada sel B yang menghasilkan antibodi spesifik untuk menargetkan antigen asing. Saat antigen masuk tubuh, sel B akan berproliferasi membentuk sel plasma dan sel memori. Sel plasma akan memproduksi sejumlah besar antibodi yang bersirkulasi dalam darah dan limfe untuk menandai antigen agar mudah dihancurkan oleh fagosit seperti makrofag. Setelah ancaman hilang, sebagian besar sel plasma akan mati, namun sel memori akan bertahan dalam jangka waktu lama. Respons imun ini dikenal sebagai respons primer.

Ketika suatu antigen yang pernah menginfeksi tubuh masuk kembali, sel B memori yang telah terbentuk sebelumnya akan dengan cepat mengenali antigen tersebut. Sel memori ini kemudian akan mengaktifkan dan berproliferasi menjadi sel plasma. Sel plasma yang baru terbentuk akan memproduksi antibodi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan cepat dibandingkan dengan respons imun primer. Hal ini menyebabkan respons imun sekunder lebih efektif dalam menetralkan patogen.

2) Kekebalan Seluler
Kekebalan seluler adalah bagian penting dari sistem imun yang melibatkan sel T dalam melawan patogen, sel terinfeksi, dan sel abnormal. Ada dua jenis sel T utama: sel T pembunuh (sitotoksik) dan sel T pembantu.

Sel T Pembunuh
  • Ketika sel T pembunuh bertemu antigen, ia akan berdiferensiasi menjadi dua jenis sel:
    • Sel T pembunuh aktif: Menyerang dan menghancurkan patogen atau sel yang terinfeksi secara langsung.
    • Sel T pembunuh pengingat: "Mengingat" antigen tersebut dan akan aktif kembali jika terjadi infeksi yang sama di kemudian hari.
Sel T Pembantu
  • Ketika sel T pembantu bertemu antigen, ia akan memproduksi sitokin (seperti interleukin) yang berfungsi untuk:
    • Merangsang sel B plasma untuk memproduksi antibodi.
    • Mengaktifkan sel T pembunuh.
    • Meningkatkan aktivitas fagosit (sel yang memakan patogen).
  • Sel T pembantu juga dapat berkembang menjadi sel T pembantu pengingat, sama seperti sel T pembunuh.
Sel T Supresor
  • Setelah infeksi berhasil ditangani, sel T supresor akan berperan dalam menghentikan respons kekebalan.
  • Caranya adalah dengan menghambat aktivitas sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi, sehingga mencegah kerusakan jaringan yang tidak perlu.
Dengan demikian, kekebalan seluler merupakan sistem yang kompleks dan terkoordinasi yang melibatkan berbagai jenis sel T untuk melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit.
 

B. Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh dan Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh​

Berdasarkan cara memperolehnya, kekebalan tubuh dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Apa yang dimaksud kekebalan aktif dan kekebalan pasif?


Aktivitas 4: Menganalisis Jenis Kekebalan Tubuh

Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Penyakit ini menular melalui droplet saat seseorang yang batuk, bersin, atau berbicara. WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 karena penyebarannya yang luas dan cepat. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Indonesia aktif melaksanakan program vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat yang tidak terinfeksi.

Berdasarkan informasi tersebut, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut bersama teman sebangkumu.
  1. Mengapa vaksinasi Covid-19 ditujukan bagi masyarakat yang tidak menderita Covid-19?
  2. Apakah penyintas Covid-19 juga perlu diberikan vaksinasi Covid-19?
  3. Mengapa vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang?
  4. Berdasarkan cara memperolehnya, apa jenis kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksinasi?
  5. Selain kekebalan dari vaksinasi, apa saja jenis kekebalan tubuh yang lain?
Carilah informasi dari berbagai sumber untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selanjutnya, tuliskan hasil diskusimu di buku tugas dan presentasikan di depan kelas. Persilakan Bapak/
Ibu Guru dan teman-teman yang lain menanggapi hasil diskusimu.


Setelah melakukan kegiatan tersebut diharapkan kamu telah mengetahui bahwa kekebalan yang diperoleh melalui imunisasi merupakan kekebalan aktif buatan. Apa yang dimaksud kekebalan aktif buatan? Apa saja jenis-jenis kekebalan tubuh dan contohnya? Ayo, pelajari materi berikut untuk mengetahuinya!

1. Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh​


Berdasarkan cara memperolehnya, kekebalan tubuh digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu
kekebalan aktif dan kekebalan pasif.

a. Kekebalan Aktif

Kekebalan aktif merupakan kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri. Kekebalan ini dapat diperoleh secara alami dan secara buatan. Kekebalan aktif alami diperoleh setelah seseorang mengalami sakit akibat infeksi suatu patogen. Setelah sembuh dari sakit, orang tersebut akan menjadi kebal terhadap penyakit. Sebagai contoh, orang yang pernah sakit campak tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kalinya. Adapun kekebalan aktif buatan diperoleh melalui imunisasi, misalnya dengan pemberian vaksin.

Vaksin adalah siapan antigen yang diberikan secara oral (melalui mulut) atau melalui suntikan untuk merangsang mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen. Vaksin dapat berupa suspensi patogen yang telah dilemahkan atau fraksi-fraksi dari patogen seperti toksoid (racun yang sudah diinaktivasi). Berdasarkan jenis antigen yang ada di dalamnya, vaksin dibedakan menjadi tiga seperti berikut.

1) Vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine), yaitu jenis vaksin yang mengandung patogen yang sudah dilemahkan, misalnya Oral Polio Vaccine (OPV), vaksin campak, vaksin rotavirus, dan vaksin demam kuning.

2) Vaksin yang sudah dimatikan (inactivated vaccine), yaitu jenis vaksin yang mengandung patogen yang sudah dimatikan, misalnya whole-cell Pertussis Vaccine dan Inactivated Polio Vaccine (IPV).

3) Vaksin subunit (subunit vaccine), yaitu jenis vaksin yang dibuat dari komponen patogen, misalnya acellular Pertussis Vaccine, vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HiB), Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), dan vaksin hepatitis B.

4) Vaksin toksoid, yaitu jenis vaksin yang dibuat dari toksin yang sudah dilemahkan, misalnya vaksin toksoid tetanus dan vaksin toksoid difteri.

Pemberian vaksin atau vaksinasi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam upaya pembentukan imun dalam tubuh (imunisasi). Vaksin yang dimasukkan ke tubuh akan menstimulasi pembentukan antibodi untuk melawan antigen. Akibatnya, tubuh akan menjadi kebal terhadap penyakit jika suatu saat penyakit tersebut menyerang.

Vaksin diberikan melalui program imunisasi. Imunisasi mulai dilakukan sejak seseorang masih bayi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaran Imunisasi dan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2017, jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh bayi sebagai berikut.

1) Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi ini diberikan 12 jam setelah bayi lahir. Setelah itu, pemberian imunisasi hepatitis B dilakukan bersamaan dengan imunisasi DTPw (Diphteria, Tetanus and Pertussis whole-cell) pada usia 2, 3, dan 4 bulan atau DTPa (Diphteria, Tetanus and Pertussis acelullar) pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Imunisasi hepatitis B dilakukan kepada bayi untuk mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang hati. Virus penyebab hepatitis dapat masuk melalui berbagai cara. Salah satunya, sejak dalam kandungan karena ibu mengidap penyakit hepatitis B atau saat proses kelahiran. Cara lain dapat melalui kontak dengan darah penderita, dapat juga dari alat-alat medis yang sebelumnya sudah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis
B. Vaksinasi diberikan untuk membentuk antibodi yang dapat melindungi tubuh terhadap virus Hepatitis B apabila terjadi infeksi di kemudian hari.

2) Imunisasi Polio

Imunisasi polio diberikan beberapa kali pada bayi. Imunisasi pertama dilakukan pada bayi berusia 0 bulan dengan Oral Polio Vaccine (OPV). Selanjutnya, imunisasi dilakukan saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis Inactivated Polio Vaccine (IPV) bersamaan dengan pemberian OPV pada usia 4 bulan. Dosis penguat (booster) diberikan saat bayi mencapai usia 18 bulan. Imunisasi polio bertujuan untuk menghindari penyakit polio atau poliomielitis yang menyerang saraf. Virus penyebab polio hidup di tenggorokan dan saluran usus yang dapat disebarkan melalui kontak cairan ataupun tinja. Dampak terburuk penyakit polio adalah kelumpuhan organ tubuh hingga kematian.

3) Imunisasi BCG (Bacille Calmette-Guérin)

Imunisasi BCG diberikan satu kali pada bayi usia 0–2 bulan. Tujuan dari imunisasi ini untuk mencegah infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit tuberkulosis. Penyakit ini mudah sekali menular melalui droplet yang terbawa keluar saat penderita batuk, berbicara, dan bersin.

4) Imunisasi Pentavalen

Imunisasi pentavalen merupakan kombinasi dari imunisasi hepatitis B (HB-1, HB-2, atau HB-3), imunsiasi DTPw (Diphtheria, Tetanus and Pertussis whole cell)/DTPa (Diphteria, Tetanus and Pertussis acelullar), dan imunisasi HiB (Haemophilus influenzae tipe B). Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah beberapa penyakit sekaligus, yaitu penyakit hepatitis B, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, dan penyakit akibat infeksi bakteri Haemophilus influenzae tipe B seperti meningitis dan pneumonia. Waktu pemberian imunisasi ini dilakukan mengikuti jenis vaksin DTP yang digunakan. Imunisasi pentavalen dengan DTPw
dilakukan pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan. Sementara itu, imunisasi pentavalen dengan DTPa dilakukan pada bayi usia 2, 4, dan 6 bulan.

5) Imunisasi Campak

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah penyakit campak (measles). Imunisasi campak
diberikan saat anak berusia 9 bulan. Dosis penguat (booster) diberikan dua kali, yaitu saat
anak berusia 18 bulan dan 6 tahun. Imunisasi campak pada anak usia 18 bulan tidak perlu
dilakukan apabila anak sudah mendapat imunisasi MR (Measles and Mumps)/MMR (Measles,
Mumps and Rubella) pada usia 15 bulan.

b. Kekebalan Pasif

Kekebalan pasif merupakan kekebalan yang diperoleh setelah tubuh menerima antibodi dari luar. Kekebalan ini dapat diperoleh secara alami dan buatan. Kekebalan pasif alami dapat ditemukan pada bayi setelah menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta saat masih berada di dalam kandungan. Jenis kekebalan ini juga dapat diperoleh dengan pemberian kolostrum yang mengandung banyak antibodi.

Adapun kekebalan pasif buatan diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain sebagai serum. Kekebalan pasif ini berlangsung singkat, tetapi berguna untuk penyembuhan secara cepat. Contoh kekebalan pasif adalah pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.

2. Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh​


a. Alergi

Alergi atau hipersensitivitas adalah suatu respons imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang
masuk ke tubuh. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi disebut alergen. Alergen dapat berupa debu,
serbuk sari, cairan dari gigitan serangga, rambut kucing, dan jenis makanan tertentu seperti udang.

Proses terjadinya alergi diawali dengan masuknya alergen ke tubuh. Alergen tersebut akan merangsang
sel B plasma untuk menyekresikan antibodi IgE. Alergen yang masuk ke tubuh pertama kali tidak akan menimbulkan gejala alergi. Namun, IgE yang terbentuk akan berikatan dengan mastosit. Akibatnya, ketika alergen masuk ke tubuh untuk kedua kalinya, alergen akan terikat pada IgE yang telah berikatan dengan mastosit. Kondisi ini mengakibatkan mastosit melepaskan histamin yang berperan dalam proses peradangan/inflamasi. Respons inflamasi ini mengakibatkan timbulnya gejala di antaranya bersin, kulit terasa gatal, mata berair, hidung berlendir, dan kesulitan bernapas. Pemberian antihistamin dapat menghentikan gejala alergi.

b. Autoimunitas

Autoimunitas merupakan gangguan pada sistem kekebalan tubuh saat antibodi yang diproduksi justru menyerang sel-sel tubuh sendiri karena tidak mampu membedakan sel tubuh sendiri dengan sel asing. Autoimunitas dapat disebabkan oleh gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus. Autoimunitas dapat mengakibatkan beberapa kelainan berikut.

1) Diabetes melitus, disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel beta di pankreas yang berfungsi menghasilkan hormon insulin. Keadaan ini mengakibatkan tubuh kekurangan hormon insulin sehingga kadar gula darah meningkat.

2) Addison’s disease, disebabkan oleh antibodi yang menyerang kelenjar adrenal. Hal ini mengakibatkan berat badan menurun, kadar gula darah menurun, mudah lelah, dan pigmentasi kulit meningkat.

3) Graves’s disease, disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulins) yang menyerang sel-sel di kelenjar tiroid. Akibatnya, penderita mengalami hipertiroidisme atau produksi hormon tiroksin berlebihan. Produksi hormon tiroksin yang terlalu banyak dalam tubuh dapat menimbulkan gangguan serius pada jantung, otot, mata, kulit, siklus menstruasi, dan masalah kesuburan.

4) Hashimoto’s disease, merupakan gangguan autoimunitas yang menyebabkan penderitanya mengalami hipotiroidisme (penurunan produksi hormon tiroksin hingga di bawah normal). Penyebab gangguan ini sama seperti penyebab penyakit Graves, yaitu antibodi yang menyerang sel-sel di kelenjar tiroid. Gejala Hashimoto’s disease meliputi tubuh mudah lelah dan lesu, kulit memucat, rambut rontok, berat badan meningkat tanpa sebab, otot dan sendi terasa lemah, nyeri, kaku, dan sakit jika disentuh, serta sensitif terhadap suhu.

5) Myasthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini mengakibatkan
otot lurik mengalami kerusakan. Sebagai contoh, kerusakan otot lurik yang terjadi pada
mata menyebabkan posisi mata tidak proporsional.

6) Multiple sclerosis, disebabkan oleh antibodi menyerang mielin (serabut saraf) sehingga komunikasi antara otak dengan seluruh tubuh menjadi terganggu. Gejala multiple sclerosis berbeda-beda tergantung pada lokasi saraf yang dipengaruhi. Gejala yang paling sering diderita oleh penderita multiple sclerosis adalah kesulitan untuk bergerak dan melihat.

7) Inflammatory Bowel Disease (IBD), disebabkan antibodi menyerang sel-sel epitel usus. Terdapat dua macam IBD, yaitu kolitif ulseratif dan Crohn’s disease. Perbedaan keduanya terletak pada lokasi usus yang diserang oleh antibodi. Kolitif ulseratif terjadi di area usus besar, sedangkan Crohn’s disease terjadi di saluran pencernaan selain usus besar. Gejala yang ditimbulkan IBD berupa peradangan saluran pencernaan.

8) Lupus, disebabkan oleh antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada penderita lupus, antibodi menyerang jaringan tubuh dengan dua cara berikut.

a) Antibodi menyerang jaringan tubuh secara langsung. Sebagai contoh, antibodi menyerang sel-sel darah yang mengakibatkan sel-selnya hancur sehingga dapat mengakibatkan anemia.

b) Antibodi akan bergabung dengan antigen dan membentuk ikatan yang disebut kompleks imun. Dalam keadaan normal, sel asing yang antigennya telah diikat oleh antibodi selanjutnya akan ditangkap dan dihancurkan oleh fagosit. Namun, pada penderita lupus, sel asing ini tidak dapat dihancurkan oleh fagosit dengan baik. Jumlah fagosit ini justru terus bertambah sambil mengeluarkan senyawa yang berperan menimbulkan inflamasi atau peradangan. Proses peradangan ini akan menimbulkan berbagai gejala penyakit lupus. Jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, fungsi organ tubuh akan terganggu.

9) Radang sendi atau artritis reumatoid, merupakan penyakit autoimunitas yang mengakibatkan
peradangan sendi dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi, atrofi otot, serta penipisan tulang.

10) Sindrom Guillain-Barré, disebabkan antibodi yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sistem saraf perifer (tepi) yang bertanggung jawab mengendalikan pergerakan tubuh. Gangguan ini merupakan gangguan autoimunitas yang paling jarang terjadi. Penderita sindrom Guillain-Barré dapat
mengalami gejala secara bertahap. Diawali dari kesemutan dan nyeri pada otot yang berlangsung lama hingga pelemahan otot kaki hingga kepala. Pada kasus sindrom Guillain-Barré yang parah, penderitanya dapat mengalami disfagia, yaitu kesulitan menelan dan berbicara, gangguan pencernaan, penglihatan menjadi ganda dan buram, kelumpuhan otot, hipertensi, aritmia (ketidakteraturan detak jantung),
hingga hilang kesadaran.

c. Imunodefisiensi

Imunodefisiensi adalah penurunan atau hilangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk merespons antigen. Terdapat dua jenis imunodefisiensi, yaitu imunodefisiensi primer (kongenital) dan imunodefisiensi sekunder. Imunodefisiensi primer terjadi sejak seseorang lahir akibat adanya kelainan genetik. Penyakit yang tergolong imunodefisensi primer sebagai berikut.

1) Severe Combined Immunodeficiency (SCID), disebabkan oleh kelainan genetik pada kromosom X yang menyebabkan limfosit tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh pederita kelainan SCID tidak dapat bekerja melawan infeksi. Penyakit ini kerap disebut sebagai bubble boy disease karena penderitanya diharuskan mengenakan pakaian khusus dengan bola bening seperti gelembung pada bagian kepala agar penderita terhindar dari infeksi.

2) Agammaglobulinemia, disebabkan terhambatnya perkembangan sel B akibat adanya mutasi pada kromosom X. Gen yang mengalami mutasi pada penderita agammaglobulinemia adalah gen BTK yang menyandi enzim Bruton’s Tyrosin Kinase yang berperan dalam pematangan sel B. Penderita agammaglobulinemia mudah sekali terinfeksi patogen sejak lahir.

3) Sindrom DiGeorge, disebabkan mutasi genetik pada kromosom 22, lebih tepatnya delesi kromosom 22q11.2 yang menyebabkan kelenjar timus tidak berkembang dengan sempurna. Padahal kelenjar timus merupakan organ yang berperan dalam proses pematangan sel T. Oleh karena kelenjar timus penderita sindrom DiGeorge tidak berkembang dengan baik, proses pematangan sel T tidak dapat berlangsung. Selain kelainan pada kelenjar timus, gejala lain penyakit ini, yaitu bentuk wajah tidak normal, bibir sumbing, perkembangan motorik terganggu, hingga kelainan jantung.

4) Sindrom Wiskott-Aldrich, disebabkan mutasi genetik pada kromosom Xp11.23. Penderita penyakit ini mengalami disfungsi limfosit sehingga mudah mengalami gangguan autoimunitas. Penderita sindrom Wiskott-Aldrich juga rentan terkena gangguan hipersensitivitas karena kadar IgE melebihi batas normal.

Sementara itu, imunodefisiensi sekunder terjadi akibat adanya infeksi atau efek dari obat-obatan. Penyakit yang tergolong imunodefisiensi sekunder sebagai berikut.

1) Limfoma, yaitu kanker yang menyerang limfosit (sel T dan sel B) sehingga sistem pertahanan tubuh menjadi terganggu. Limfoma ditandai oleh pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati).

2) Multiple myeloma, yaitu kanker yang menyerang sel B plasma sehingga produksi antibodi menjadi terhambat. Penyakit ini umumnya ditandai dengan rasa nyeri pada tulang belakang. Penderita multiple myeloma biasanya mengalami gangguan autoimunitas karena antibodi yang dihasilkan sel mieloma (sel B abnormal) menyerang sel-sel tubuh sendiri.

3) Mononukleosis, disebabkan infeksi virus Epstein-Barr yang menyerang sel B. Akibatnya, produksi antibodi penderita penyakit ini menjadi terhambat.

4) Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), merupakan kumpulan berbagai penyakit yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus tersebut menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma. Hal ini mengakibatkan kemampuan tubuh melawan patogen menjadi berkurang. Sel T pembantu menjadi target utama HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor. Infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4 pada permukaan sel T pembantu. Virus tersebut kemudian masuk ke sel T pembantu secara endositosis dan memulai replikasi (memperbanyak diri). Selanjutnya, virus-virus baru keluar dari sel T yang terinfeksi secara eksositosis atau dengan cara melisiskan sel.
 
Status
Tidak terbuka untuk balasan lebih lanjut.

Anggota online

Back
Top