B. Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh dan Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh
Berdasarkan cara memperolehnya, kekebalan tubuh dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Apa yang dimaksud kekebalan aktif dan kekebalan pasif?
Aktivitas 4: Menganalisis Jenis Kekebalan Tubuh
Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Penyakit ini menular melalui droplet saat seseorang yang batuk, bersin, atau berbicara. WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 karena penyebarannya yang luas dan cepat. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Indonesia aktif melaksanakan program vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat yang tidak terinfeksi.
Berdasarkan informasi tersebut, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut bersama teman sebangkumu.
- Mengapa vaksinasi Covid-19 ditujukan bagi masyarakat yang tidak menderita Covid-19?
- Apakah penyintas Covid-19 juga perlu diberikan vaksinasi Covid-19?
- Mengapa vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang?
- Berdasarkan cara memperolehnya, apa jenis kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksinasi?
- Selain kekebalan dari vaksinasi, apa saja jenis kekebalan tubuh yang lain?
Carilah informasi dari berbagai sumber untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selanjutnya, tuliskan hasil diskusimu di buku tugas dan presentasikan di depan kelas. Persilakan Bapak/
Ibu Guru dan teman-teman yang lain menanggapi hasil diskusimu.
Setelah melakukan kegiatan tersebut diharapkan kamu telah mengetahui bahwa kekebalan yang diperoleh melalui imunisasi merupakan kekebalan aktif buatan. Apa yang dimaksud kekebalan aktif buatan? Apa saja jenis-jenis kekebalan tubuh dan contohnya? Ayo, pelajari materi berikut untuk mengetahuinya!
1. Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh
Berdasarkan cara memperolehnya, kekebalan tubuh digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu
kekebalan aktif dan kekebalan pasif.
a. Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif merupakan kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri. Kekebalan ini dapat diperoleh secara alami dan secara buatan. Kekebalan aktif alami diperoleh setelah seseorang mengalami sakit akibat infeksi suatu patogen. Setelah sembuh dari sakit, orang tersebut akan menjadi kebal terhadap penyakit. Sebagai contoh, orang yang pernah sakit campak tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kalinya. Adapun kekebalan aktif buatan diperoleh melalui imunisasi, misalnya dengan pemberian vaksin.
Vaksin adalah siapan antigen yang diberikan secara oral (melalui mulut) atau melalui suntikan untuk merangsang mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen. Vaksin dapat berupa suspensi patogen yang telah dilemahkan atau fraksi-fraksi dari patogen seperti toksoid (racun yang sudah diinaktivasi). Berdasarkan jenis antigen yang ada di dalamnya, vaksin dibedakan menjadi tiga seperti berikut.
1) Vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine), yaitu jenis vaksin yang mengandung patogen yang sudah dilemahkan, misalnya Oral Polio Vaccine (OPV), vaksin campak, vaksin rotavirus, dan vaksin demam kuning.
2) Vaksin yang sudah dimatikan (inactivated vaccine), yaitu jenis vaksin yang mengandung patogen yang sudah dimatikan, misalnya whole-cell Pertussis Vaccine dan Inactivated Polio Vaccine (IPV).
3) Vaksin subunit (subunit vaccine), yaitu jenis vaksin yang dibuat dari komponen patogen, misalnya acellular Pertussis Vaccine, vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HiB), Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), dan vaksin hepatitis B.
4) Vaksin toksoid, yaitu jenis vaksin yang dibuat dari toksin yang sudah dilemahkan, misalnya vaksin toksoid tetanus dan vaksin toksoid difteri.
Pemberian vaksin atau vaksinasi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam upaya pembentukan imun dalam tubuh (imunisasi). Vaksin yang dimasukkan ke tubuh akan menstimulasi pembentukan antibodi untuk melawan antigen. Akibatnya, tubuh akan menjadi kebal terhadap penyakit jika suatu saat penyakit tersebut menyerang.
Vaksin diberikan melalui program imunisasi. Imunisasi mulai dilakukan sejak seseorang masih bayi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaran Imunisasi dan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2017, jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh bayi sebagai berikut.
1) Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi ini diberikan 12 jam setelah bayi lahir. Setelah itu, pemberian imunisasi hepatitis B dilakukan bersamaan dengan imunisasi DTPw (Diphteria, Tetanus and Pertussis whole-cell) pada usia 2, 3, dan 4 bulan atau DTPa (Diphteria, Tetanus and Pertussis acelullar) pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Imunisasi hepatitis B dilakukan kepada bayi untuk mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang hati. Virus penyebab hepatitis dapat masuk melalui berbagai cara. Salah satunya, sejak dalam kandungan karena ibu mengidap penyakit hepatitis B atau saat proses kelahiran. Cara lain dapat melalui kontak dengan darah penderita, dapat juga dari alat-alat medis yang sebelumnya sudah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis
B. Vaksinasi diberikan untuk membentuk antibodi yang dapat melindungi tubuh terhadap virus Hepatitis B apabila terjadi infeksi di kemudian hari.
2) Imunisasi Polio
Imunisasi polio diberikan beberapa kali pada bayi. Imunisasi pertama dilakukan pada bayi berusia 0 bulan dengan Oral Polio Vaccine (OPV). Selanjutnya, imunisasi dilakukan saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis Inactivated Polio Vaccine (IPV) bersamaan dengan pemberian OPV pada usia 4 bulan. Dosis penguat (booster) diberikan saat bayi mencapai usia 18 bulan. Imunisasi polio bertujuan untuk menghindari penyakit polio atau poliomielitis yang menyerang saraf. Virus penyebab polio hidup di tenggorokan dan saluran usus yang dapat disebarkan melalui kontak cairan ataupun tinja. Dampak terburuk penyakit polio adalah kelumpuhan organ tubuh hingga kematian.
3) Imunisasi BCG (Bacille Calmette-Guérin)
Imunisasi BCG diberikan satu kali pada bayi usia 0–2 bulan. Tujuan dari imunisasi ini untuk mencegah infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit tuberkulosis. Penyakit ini mudah sekali menular melalui droplet yang terbawa keluar saat penderita batuk, berbicara, dan bersin.
4) Imunisasi Pentavalen
Imunisasi pentavalen merupakan kombinasi dari imunisasi hepatitis B (HB-1, HB-2, atau HB-3), imunsiasi DTPw (Diphtheria, Tetanus and Pertussis whole cell)/DTPa (Diphteria, Tetanus and Pertussis acelullar), dan imunisasi HiB (Haemophilus influenzae tipe B). Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah beberapa penyakit sekaligus, yaitu penyakit hepatitis B, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, dan penyakit akibat infeksi bakteri Haemophilus influenzae tipe B seperti meningitis dan pneumonia. Waktu pemberian imunisasi ini dilakukan mengikuti jenis vaksin DTP yang digunakan. Imunisasi pentavalen dengan DTPw
dilakukan pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan. Sementara itu, imunisasi pentavalen dengan DTPa dilakukan pada bayi usia 2, 4, dan 6 bulan.
5) Imunisasi Campak
Imunisasi ini digunakan untuk mencegah penyakit campak (measles). Imunisasi campak
diberikan saat anak berusia 9 bulan. Dosis penguat (booster) diberikan dua kali, yaitu saat
anak berusia 18 bulan dan 6 tahun. Imunisasi campak pada anak usia 18 bulan tidak perlu
dilakukan apabila anak sudah mendapat imunisasi MR (Measles and Mumps)/MMR (Measles,
Mumps and Rubella) pada usia 15 bulan.
b. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif merupakan kekebalan yang diperoleh setelah tubuh menerima antibodi dari luar. Kekebalan ini dapat diperoleh secara alami dan buatan. Kekebalan pasif alami dapat ditemukan pada bayi setelah menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta saat masih berada di dalam kandungan. Jenis kekebalan ini juga dapat diperoleh dengan pemberian kolostrum yang mengandung banyak antibodi.
Adapun kekebalan pasif buatan diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain sebagai serum. Kekebalan pasif ini berlangsung singkat, tetapi berguna untuk penyembuhan secara cepat. Contoh kekebalan pasif adalah pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.
2. Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh
a. Alergi
Alergi atau hipersensitivitas adalah suatu respons imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang
masuk ke tubuh. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi disebut alergen. Alergen dapat berupa debu,
serbuk sari, cairan dari gigitan serangga, rambut kucing, dan jenis makanan tertentu seperti udang.
Proses terjadinya alergi diawali dengan masuknya alergen ke tubuh. Alergen tersebut akan merangsang
sel B plasma untuk menyekresikan antibodi IgE. Alergen yang masuk ke tubuh pertama kali tidak akan menimbulkan gejala alergi. Namun, IgE yang terbentuk akan berikatan dengan mastosit. Akibatnya, ketika alergen masuk ke tubuh untuk kedua kalinya, alergen akan terikat pada IgE yang telah berikatan dengan mastosit. Kondisi ini mengakibatkan mastosit melepaskan histamin yang berperan dalam proses peradangan/inflamasi. Respons inflamasi ini mengakibatkan timbulnya gejala di antaranya bersin, kulit terasa gatal, mata berair, hidung berlendir, dan kesulitan bernapas. Pemberian antihistamin dapat menghentikan gejala alergi.
b. Autoimunitas
Autoimunitas merupakan gangguan pada sistem kekebalan tubuh saat antibodi yang diproduksi justru menyerang sel-sel tubuh sendiri karena tidak mampu membedakan sel tubuh sendiri dengan sel asing. Autoimunitas dapat disebabkan oleh gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus. Autoimunitas dapat mengakibatkan beberapa kelainan berikut.
1) Diabetes melitus, disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel beta di pankreas yang berfungsi menghasilkan hormon insulin. Keadaan ini mengakibatkan tubuh kekurangan hormon insulin sehingga kadar gula darah meningkat.
2) Addison’s disease, disebabkan oleh antibodi yang menyerang kelenjar adrenal. Hal ini mengakibatkan berat badan menurun, kadar gula darah menurun, mudah lelah, dan pigmentasi kulit meningkat.
3) Graves’s disease, disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulins) yang menyerang sel-sel di kelenjar tiroid. Akibatnya, penderita mengalami hipertiroidisme atau produksi hormon tiroksin berlebihan. Produksi hormon tiroksin yang terlalu banyak dalam tubuh dapat menimbulkan gangguan serius pada jantung, otot, mata, kulit, siklus menstruasi, dan masalah kesuburan.
4) Hashimoto’s disease, merupakan gangguan autoimunitas yang menyebabkan penderitanya mengalami hipotiroidisme (penurunan produksi hormon tiroksin hingga di bawah normal). Penyebab gangguan ini sama seperti penyebab penyakit Graves, yaitu antibodi yang menyerang sel-sel di kelenjar tiroid. Gejala Hashimoto’s disease meliputi tubuh mudah lelah dan lesu, kulit memucat, rambut rontok, berat badan meningkat tanpa sebab, otot dan sendi terasa lemah, nyeri, kaku, dan sakit jika disentuh, serta sensitif terhadap suhu.
5) Myasthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini mengakibatkan
otot lurik mengalami kerusakan. Sebagai contoh, kerusakan otot lurik yang terjadi pada
mata menyebabkan posisi mata tidak proporsional.
6) Multiple sclerosis, disebabkan oleh antibodi menyerang mielin (serabut saraf) sehingga komunikasi antara otak dengan seluruh tubuh menjadi terganggu. Gejala multiple sclerosis berbeda-beda tergantung pada lokasi saraf yang dipengaruhi. Gejala yang paling sering diderita oleh penderita multiple sclerosis adalah kesulitan untuk bergerak dan melihat.
7) Inflammatory Bowel Disease (IBD), disebabkan antibodi menyerang sel-sel epitel usus. Terdapat dua macam IBD, yaitu kolitif ulseratif dan Crohn’s disease. Perbedaan keduanya terletak pada lokasi usus yang diserang oleh antibodi. Kolitif ulseratif terjadi di area usus besar, sedangkan Crohn’s disease terjadi di saluran pencernaan selain usus besar. Gejala yang ditimbulkan IBD berupa peradangan saluran pencernaan.
8) Lupus, disebabkan oleh antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada penderita lupus, antibodi menyerang jaringan tubuh dengan dua cara berikut.
a) Antibodi menyerang jaringan tubuh secara langsung. Sebagai contoh, antibodi menyerang sel-sel darah yang mengakibatkan sel-selnya hancur sehingga dapat mengakibatkan anemia.
b) Antibodi akan bergabung dengan antigen dan membentuk ikatan yang disebut kompleks imun. Dalam keadaan normal, sel asing yang antigennya telah diikat oleh antibodi selanjutnya akan ditangkap dan dihancurkan oleh fagosit. Namun, pada penderita lupus, sel asing ini tidak dapat dihancurkan oleh fagosit dengan baik. Jumlah fagosit ini justru terus bertambah sambil mengeluarkan senyawa yang berperan menimbulkan inflamasi atau peradangan. Proses peradangan ini akan menimbulkan berbagai gejala penyakit lupus. Jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, fungsi organ tubuh akan terganggu.
9) Radang sendi atau artritis reumatoid, merupakan penyakit autoimunitas yang mengakibatkan
peradangan sendi dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi, atrofi otot, serta penipisan tulang.
10) Sindrom Guillain-Barré, disebabkan antibodi yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sistem saraf perifer (tepi) yang bertanggung jawab mengendalikan pergerakan tubuh. Gangguan ini merupakan gangguan autoimunitas yang paling jarang terjadi. Penderita sindrom Guillain-Barré dapat
mengalami gejala secara bertahap. Diawali dari kesemutan dan nyeri pada otot yang berlangsung lama hingga pelemahan otot kaki hingga kepala. Pada kasus sindrom Guillain-Barré yang parah, penderitanya dapat mengalami disfagia, yaitu kesulitan menelan dan berbicara, gangguan pencernaan, penglihatan menjadi ganda dan buram, kelumpuhan otot, hipertensi, aritmia (ketidakteraturan detak jantung),
hingga hilang kesadaran.
c. Imunodefisiensi
Imunodefisiensi adalah penurunan atau hilangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk merespons antigen. Terdapat dua jenis imunodefisiensi, yaitu imunodefisiensi primer (kongenital) dan imunodefisiensi sekunder. Imunodefisiensi primer terjadi sejak seseorang lahir akibat adanya kelainan genetik. Penyakit yang tergolong imunodefisensi primer sebagai berikut.
1)
Severe Combined Immunodeficiency (SCID), disebabkan oleh kelainan genetik pada kromosom X yang menyebabkan limfosit tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh pederita kelainan SCID tidak dapat bekerja melawan infeksi. Penyakit ini kerap disebut sebagai bubble boy disease karena penderitanya diharuskan mengenakan pakaian khusus dengan bola bening seperti gelembung pada bagian kepala agar penderita terhindar dari infeksi.
2)
Agammaglobulinemia, disebabkan terhambatnya perkembangan sel B akibat adanya mutasi pada kromosom X. Gen yang mengalami mutasi pada penderita agammaglobulinemia adalah gen BTK yang menyandi enzim Bruton’s Tyrosin Kinase yang berperan dalam pematangan sel B. Penderita agammaglobulinemia mudah sekali terinfeksi patogen sejak lahir.
3)
Sindrom DiGeorge, disebabkan mutasi genetik pada kromosom 22, lebih tepatnya delesi kromosom 22q11.2 yang menyebabkan kelenjar timus tidak berkembang dengan sempurna. Padahal kelenjar timus merupakan organ yang berperan dalam proses pematangan sel T. Oleh karena kelenjar timus penderita sindrom DiGeorge tidak berkembang dengan baik, proses pematangan sel T tidak dapat berlangsung. Selain kelainan pada kelenjar timus, gejala lain penyakit ini, yaitu bentuk wajah tidak normal, bibir sumbing, perkembangan motorik terganggu, hingga kelainan jantung.
4)
Sindrom Wiskott-Aldrich, disebabkan mutasi genetik pada kromosom Xp11.23. Penderita penyakit ini mengalami disfungsi limfosit sehingga mudah mengalami gangguan autoimunitas. Penderita sindrom Wiskott-Aldrich juga rentan terkena gangguan hipersensitivitas karena kadar IgE melebihi batas normal.
Sementara itu, imunodefisiensi sekunder terjadi akibat adanya infeksi atau efek dari obat-obatan. Penyakit yang tergolong imunodefisiensi sekunder sebagai berikut.
1)
Limfoma, yaitu kanker yang menyerang limfosit (sel T dan sel B) sehingga sistem pertahanan tubuh menjadi terganggu. Limfoma ditandai oleh pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati).
2)
Multiple myeloma, yaitu kanker yang menyerang sel B plasma sehingga produksi antibodi menjadi terhambat. Penyakit ini umumnya ditandai dengan rasa nyeri pada tulang belakang. Penderita multiple myeloma biasanya mengalami gangguan autoimunitas karena antibodi yang dihasilkan sel mieloma (sel B abnormal) menyerang sel-sel tubuh sendiri.
3)
Mononukleosis, disebabkan infeksi virus Epstein-Barr yang menyerang sel B. Akibatnya, produksi antibodi penderita penyakit ini menjadi terhambat.
4)
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), merupakan kumpulan berbagai penyakit yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus tersebut menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma. Hal ini mengakibatkan kemampuan tubuh melawan patogen menjadi berkurang. Sel T pembantu menjadi target utama HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor. Infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4 pada permukaan sel T pembantu. Virus tersebut kemudian masuk ke sel T pembantu secara endositosis dan memulai replikasi (memperbanyak diri). Selanjutnya, virus-virus baru keluar dari sel T yang terinfeksi secara eksositosis atau dengan cara melisiskan sel.