Tantangan dan Harapan Dunia Pendidikan Guru Indonesia

Guru PPPK · Toba, Sumatera Utara
Alhamdulillah tahun ini saya lulus PPPK setelah beberapa kali mendaftar. Tapi ternyata masalah baru muncul: SK belum turun, gaji dirapel entah kapan. Semangat mengajar saya utuh, hanya dompet yang sering kosong di akhir bulan.
 
Guru Honorer PAUD

Saya mengajar di PAUD desa dengan enam murid. Insentif dari desa Rp150 ribu per bulan, kadang tidak cair karena dana desa dialihkan. Harapan saya, pemerintah pusat juga memperhatikan guru PAUD, bukan hanya guru SD ke atas.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Guru IPA SMP Negeri · Boyolali, Jawa Tengah

Beban administrasi Kurikulum Merdeka sangat berat. Modul ajar, ATP, asesmen diagnostik, rapor projek — semua harus diketik sendiri tanpa pendamping yang benar-benar paham lapangan. Pelatihan yang saya ikuti isinya cuma sosialisasi, bukan pendampingan praktik.
 
Guru Bahasa Indonesia SMA · Cianjur, Jawa Barat

Saya sampai begadang tiap malam menyusun modul ajar karena siang penuh mengajar dan piket. Belum lagi input nilai ke e-rapor yang servernya sering error saat mendekati deadline. Rasanya waktu untuk benar-benar mendidik malah tersita administrasi.
 
Guru BK sering menghadapi lonjakan kasus kecemasan dan kecanduan gawai pada siswa. Orang tua sering menyerahkan sepenuhnya ke sekolah lalu menyalahkan guru saat ada masalah. Kami butuh pelatihan kesehatan mental yang lebih mendalam, bukan sekadar seminar sehari.
 
Guru Matematika SMP. Saya di swasta kecil yang muridnya makin sedikit karena warga pindah ke sekolah negeri gratis. Yayasan pun kesulitan bayar honor. Kadang saya berpikir, siapa yang sebenarnya melindungi guru swasta seperti kami?
 
Gaji Rp400 ribu per bulan dari dana BOS. Anak saya dua, sekolah pakai beasiswa. Harapan saya sederhana: diangkat PPPK penuh waktu sebelum pensiun jatah alam mendahului. Tapi saya tetap masuk kelas tiap pagi, karena anak-anak itu butuh saya, bukan status saya.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Saya sampai bilang ke rekan sejawat, kita ini jadi tukang ketik dokumen, bukan pendidik. Harapan saya sederhana: sederhanakan format administrasi, percayakan lebih banyak pada profesionalisme guru.
 
Tunjangan profesi baru cair triwulan dan sering telat. Sekali cair langsung habis untuk bayar utang warung. Saya berharap pencairan bulanan seperti yang direncanakan benar-benar terealisasi, bukan sekadar wacana tiap tahun.
 
Mengajar olahraga di sekolah tanpa lapangan layak, hanya halaman berbatu. Alat pun seadanya, bola sudah gundul. Tapi anak-anak tetap semangat lari pagi. Harapan saya, sarana prasarana olahraga di sekolah pinggiran juga diperhatikan, bukan cuma sekolah kota.
 
Tidak ada sinyal, tidak ada listrik. Saya mengajar lima kelas sendirian karena guru lain mengundurkan diri. Harapan saya cuma satu: pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya lewat program di kertas.
 
Ada yang menangis diam-diam melihat teman seangkatan kuliah jadi PNS di instansi lain dengan gaji berkali lipat, sementara dia sepuluh tahun mengabdi masih dihargai amat kecil. Tapi setiap murid memanggil "Bu Guru" dengan mata berbinar, itulah dia tetap bertahan.
 
Mengajar di Jakarta dengan fasilitas lengkap, tapi keluhan saya beda: kelas saya 42 murid, sulit memberi perhatian individual. Bukan berarti kita di kota juga tidak boleh mengeluh, karena tantangan kami juga nyata meski berbeda bentuk.
 
Ini harapan kepala sekolah (bukan saya) yang berjibaku menutup celah dana BOS yang turun terlambat sementara operasional harus jalan tiap hari. Guru honorer digaji dari BOS, kalau BOS telat, kepsek yang dicari-cari. Semoga mekanisme pencairan dana pendidikan dibuat lebih pasti.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Saya mengajar produktif Teknik Kendaraan Ringan, tapi bengkel praktik alatnya tertinggal 15 tahun dari industri. Siswa lulus tapi kaget saat magang karena teknologi kendaraan sudah jauh berbeda. Harapan saya, kerja sama SMK dan industri benar-benar nyata, bukan sekadar MoU di atas kertas.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Sekolah itu masih ada bekas trauma sosial dari masa lalu, jadi guru juga berperan menjaga toleransi antarsiswa lintas agama. Tugas guru di sini bukan cuma mengajar, tapi merajut kembali kepercayaan antarwarga lewat anak-anak. Ini berat tapi dia bangga menjalankannya.
 
Guru frustrasi dengan pergantian kebijakan yang terlalu cepat. Baru hafal Kurikulum 2013, ganti Merdeka Belajar, sekarang ada wacana penyesuaian lagi. Guru butuh kestabilan kebijakan agar bisa fokus mendalami metode mengajar, bukan terus menyesuaikan istilah baru tiap tahun.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Asesmen Nasional yang laporannya rumit dipahami orang tua. Saya harus jadi penerjemah antara kebijakan pusat dan pemahaman wali murid di desa. Semoga komunikasi kebijakan bisa lebih sederhana ke depan.
 
Internet di sekolah kami cuma bisa dipakai kalau berdiri di dekat jendela ruang guru. Saya berharap pemerataan infrastruktur digital didahulukan sebelum semua kebijakan berbasis aplikasi diwajibkan.
 
Similar content Most view View more

Anggota online

Trending content

Back
Top Bottom